Showing posts with label Tour. Show all posts
Showing posts with label Tour. Show all posts

Wednesday, October 13, 2010

Melantjong Petjinan Soerabaia – Hotel Ganefo


Setelah perjalanan menyusuri Kadal (Kapasan Dalam) di postingan sebelumnya, penyusuran kami dalam perjalanan Melantjong Petjinan Soerabaia berlanjut ke Hotel Ganefo Surabaya yang saya ceritakan dalam postingan penyusuran kapasan dalam dimana Hotel ini merupakan bekas peninggalan kediaman eks kapiten cina yang mengawasi Kapasan Dalam. Dalam bangunan ini suasana khas Belanda masih kental dimana masih menggunakan ciri khas bangunan belanda dengan atap yang tinggi dan ruangan yang besar, sama seperti rumah mak saya yang masih menggnakan atap yang tinggi dan ruangan yang besar.

Papan nama hotel ganefo surabaya

Foto bersama dengan salah seorang panitia melantjong petjinan soerabaia

Model telpon jaman dahulu masih digunakan

Jendela besar merupakan ciri khas masa Belanda

Sejuk sekali ketika masuk ke Hotel Ganefo karena masih menggunakan estetika bangunan belanda dengan adanya lubang angin pada plafon dan lubang angin pada pintu serta tingginya langit-langit. Ow ya Hotel ini terletak tidak jauh dari Klenteng Boen Bio, jadi cukup berjalan kaki sebentar maka sampailah di Hotel Ganefo yang terletak juga di Jl. Kapasan. Masih juga terlihat pada meja kasir berupa mesin ketik jaman kuno dulu dan masih berfungsi dengan baik hanya saja tidak digunakan karena mesin tik jaman dulu masih keras penenakan tuts keyboardnya. Tentunya hotel ini cocok untuk anda yang memiliki cita rasa khas arsitektur bangunan dan ala belanda maupun pencinta seni :)


Tata aturan pengunjung hotel ganefo

Mesin tik jaman kuno yang masih berfungsi

Artikel terkait Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 5 :

Melantjong Petjinan Soerabaia – Kampung Kungfu Surabaya

Arsitektur rumah perkampungan Kapasan Dalam

Perjalanan Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 5 berlanjut lagi ke kampung kungfu di Kapasan Dalam setelah postingan saya sebelumnya mengenai Klenteng Boen Bio. Saya ditemani oleh Pak Gunawan yang sekaligus Pembina karang taruna di Kadal ini sekaligus warga yang mengenal riwayat sejarah Kapasan Dalam. Dulunya kapasan dalam ini terkenal dengan kampung kungfu atau kungfu village, atau juga kampung perlawanan, kampung buaya. Terutama kapasan dalam, terletak di belakang klenteng Boen Bio maka akan terlihat lapangan basket sebagai saksi sejarah Kadal. Orang-orang disini jaman dahulu tidak mau direndahkan orang luar. Misal ada penghuni baru tapi tidak permisi ke orang lama, maka akan diberi peringatan, jika sampai tidak mengindahkan peringatan maka akan dilempari kotoran rumahnya. Warga disini tidak suka kalau disalahkan, hingga sering terjadi baku hantam. Di Kadal (Kapasan Dalam) ini muncul tokoh-tokoh jago silat seperti Ko Kui Yang, Cing Hai, Sin Cai, Kon Su Ying sebagai orang-orang lama pada masa itu.

Arsitektur rumah kapasan dalam

Lapangan Basket saksi sejarah kapasan dalam

Pak Gunawan memberikan pandangan sejarah kapasan dalam

Kemudian dialnjutkan oleh Pak Lukito sebagai narasumber dari dosen UK Petra jurusan arsitek. Kadal dibangun di masa tahun 1800-an sedangkan klenteng Boen Bio di masa 1700-an. Generasi orang tionghoa pertama yang datang sendirian dan menikah dengan orang lokal disebut baba. Tahun 1900-an generasi totok yang mana orang tiongkok datang dan membawa keluarganya disebut totok. Di era inilah munculah sekolah tionghoa di Surabaya. Imigran-imigran yang datang ke Surabaya ini merupakan orang susah yang mengadu nasib di Surabaya.

Foto rumah satu pintu

Menyusuri brand gang kampong Kapasan Dalam ini, saya dilewatkan ke bangunan rumah yang dalamnya ada sumur yang bernama sumur tong. Sayang sekali saya tidak bisa melihat sumur ini seperti apa bentuknya karena pintu akses sumur ini dikunci. Sumur ini dulunya digunakan untuk mandi bersama, ada kebakaran maka digunakanlah air dari sumur ini. Ada juga cerita konon anak-anak kecil disini takut, karena mereka melihat ada wanita mandi tapi setelah diikuti menghilang. Tong dalam sumur tong mengartikan untuk lingkungan.

Di kampung kapasan dalam ini memiliki ciri khas yaitu memiliki kavling kecil-kecil namun panjang rumahnya.

Warga lama di Kapasan Dalam

Ciri khas rumah pecinan jaman dahulu pada bentuk ujung atapnya

Bio Gok Cuan merupakan tokoh tionghoa yang lahir disini, dimana Go Cuan merupakan orang yang berpengaruh di Kadal jaman dahulu. Tradisi wayang selalu dijaga dan tidak dihilangkan. Selama 114 tahun wayang di kadal (kapasan dalam) diadakan dan biasa dilaksananakan sehari sebelum lahirnya nabi Konghucu dengan perform wayang golek dan wayang kulit. Disinilah cikal bakal rumah-rumah tionghoa di Surabaya. Sampai-sampai pemerintah Belanda menempatkan kapiten cina di Hotel Ganefo yang berdiri sekarang. Di kadal sampai diberi polisi seksi 5 untuk menjaga daerah kadal. Kadal merupakan perumahan paling tua sedangkan slompretan adalah tempat dagang.

Ciri khas rumah pecinan jaman dahulu pada bentuk ujung atapnya


Artikel terkait Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 5 :

Monday, October 11, 2010

Melantjong Petjinan Soerabaia – Klenteng Boen Bio


Papan Nama Klenteng Boen Bio Surabaya di Jl. Kapasan Surabaya

Setelah postingan bakcangan, lanjut lagi mengenai kisah klenteng Boen Bio. Awalnya klenteng ini ada di posisi belakang klenteng yang berdiri sekarang. Boen Bio ini punya cirri khas kalau literature luar artinya temple literature. Di dunia cuman ada 3 yang seperti Boen Bio yakni di kota asli tempat Konghucu lahir di Tiongkok, Jepang, dan Indonesia. Perlu di ketahui Klenteng ini sudah berusia 114 tahun. dan di belakang persis klenteng ini terdapat sekolah tionghoa jaman dahulu kala yakni Sekolah Tiong Hoa Hwee Koan Surabaya atau sekarang dikenal dengan TK Tripusaka. Posisi klenteng ini berada di Jl. Kapasan Surabaya dekat dengan pasar kapasan dan kya-kya kembang jepun Surabaya.

Salah 3 pintu dari 5 pintu masuk Klenteng Boen Bio Surabaya

Plakat yang ada tepat di atas altar sembahyang merupakan plakat asli dari raja tiongkok untuk membuktikan Klenteng Boen Bio ini adalah tempat peribadatan. Tulisan plakat di atas ini berartikan "Berkumandang ke Selatan" (Sen Diau Nan Cing) dimana aliran konghucu mengalir ke selatan Tiongkok.

Papan Sen Diau Nan Cing yang diberikan raja Tiongkok jaman dahulu terpajang di klenteng ini

Ciri unik di klenteng Boen Bio tidak adanya patung seperti halnya klenteng yang beraliran Tri Dharma tetapi disini menggunakan Shinci, yaitu papan tulisan yang dipuja adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak ada altar (Yu Lau) atau altar Tuhan Yang Maha Esa (Thien Di Ren) seperti di klenteng lainnya.

Hanya ada satu meja altar beribadah di Klenteng Boen Bio Surabaya di Jl. Kapasan Surabaya

Ada 2 aturan yang mengatur dalam ajaran Konghucu :

  • Thien Dau, yakni atuan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan
  • Ren Dau, yakni aturan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia

Dijelaskan juga oleh perwakilan majelis agama konghucu di klenteng ini bahwasanya dalam ajaran Konghucu juga diajarkan untuk menajaga lingkungan, aturan pemilihan pohon mana yang dapat ditebang, ikan tidak boleh di panen setiap hari dan pembuatan jaring yang tidak boleh mengenakan anak-anakya juga dalam jaring.

Naga di atap Boen Bio Surabaya

Nabi Konghucu lahir di tahun 551 sebelum masehi, penanggalan imlek tahun pertama. Kalau di penanggalan umum berarti 2000 + 551 maka menjadi tahun 2551 dalam kalender cina.

Nabi Konghucu lahir di keluarga perwira di jaman Jun Jiu (musim semi dan musim rontok), dimana pada masa itu banyak Negara yang tumbuh besar dan hancur. Awalnya sebelum Konghucu dilahirkan, orangtua Konghu tidak memiliki anak laki-laki karena 9 saudaranya perempuan semua dan ada 1 laki namun memiliki kaki yang cacat. Akhirnya ibunda dari Konghu berdoa di gunung Nisan agar diberi anak laki-laki.

Mendengarkan penjelasan ukiran dinding dengan batu marmer mengenai sejarah klenteng ini

Kalau diperhatikan di penutup meja sembahyang di klenteng Boen Bio ini terdapat binatang berkaki 4, bersisik dan mirip seperti naga serta memiliki tanduk di kepalanya ini disebut kirin. Saat Konghucu lahir ada 2 ekor naga yang mengelilingi rumah dan suara music yang merdu dimainkan oleh para dewa.

Konghu sendiri memiliki nama asli yaitu Tiong Ni, Ni diambil dari gunung Nisan, tempat ibunda Konghu sembahyang. Terdapat 49 tanda menakjubkan di tubuh Konghu yang menandakan bukan orang sembarangan. Di usia 19 tahun beliau menikah dan memiliki 1 anak, kerajaan member hadiah Ikan Li (Ikan Gurami). Di Usia 56 tahun mengembara.

Penjelasan Majelis Konghucu di Klenteng Boen Bioe mengenai filosofi dalam klenteng ini   

Kembali lagi ke sejarah klenteng Boen Bio, terdapat 2 pilar naga yaitu Tiong Si (Tepa Selira) sesama manusia harus bertenggang rasa.

Saat memasuki klenteng ini terdapat 4 anak tangga yang mengartikan :

  • Belajar
  • Di Dunia ini tidak mudah kekal ada saatnya pulang
  • Membersihkan pikiran dan kebersihan hati
  • Pada akhirnya kita akan pulang ke Tuhan YME

Pada ajaran Konghucu di aplikasikan dalam bangunan klenteng. 5 pintu yang ada menjadi pintu gerbang klenteng Boen Bio seperti halnya panca indra :

  • Cinta kasih
  • Kebenaran dan keadilan
  • Susila
  • Bijaksana
  • Dapat dipercaya

Hidup di dunia ini harus seimbang. Melihat yin dan yang dari klenteng dapat dilihat dari singa yang menjaga, di kiri perempuan dan di kanan laki.

Terdapat 6 pasang singa di klenteng ini, 1 pasang di depan, 1 pasang di belakang, 4 pasang di atap dimana 4 ini merupakan arah mata angin.

Untuk setiap memperingati ulang tahun nabi Konghu selalu diadakan wayang kulit oleh warga belakang klenteng, hal ini sudah menjadi tradisi dan tidak pernah dilanggar oleh penduduk setempat. Kenapa tidak boleh dilanggar ? ternyata kalau dilanggar warga percaya jika dilanggar maka akan terjadi musibah yang menimpa warga. Percaya tidak percaya terserah anda :p saya share apa yang saya ketahui. Ikuti juga kisah melantjong saya selanjutnya :)


Artikel terkait Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 5 :

Sunday, October 10, 2010

Melantjong Petjinan Soerabaia : Bakcang

Weiiitts Ericovamili ! kali ini saya berkesempatan untuk ikut tur melanjtong petjinan soerabaia. Setelah episode 3 yang aman event untuk petjinan berhubungan dengan pemakaman kali ini saya tidak melewatkan episode kampoeng kungfu, special di tanggal momentum fengshui 10-10-2010 ! :D episode kemarin yang melantjong petjinan menuju tuban saya tidak bisa hadir hehe :p

Ce Maya sedang briefieng para anggota

Seperti biasa markas besar selalu berkumpul di kediaman Ce Paulina Mayasari, founder dari Jejak Petjinan. Bertempat di Jl. Bibis no 3 (Bibisoversvaart straat 3) berkumpulah saya dengan para pelancong. Ehh ketemu Emak dari Ce Dian disini sekaligus Mak saya juga kekeke :p ga nyangka ternyata di part pertama yakni pembuatan bakcang dan sejarah bakcang ada Mak nongol dan masuk tipi :p hihihihi selamat ya mak :D


                                               Souvenir Melantjong Petjinan Soerabaia

Pembuatan Bakcang

Nah di markas sini di ajarkan bagaimana membuat bakcang. Untuk temen-temen muslim sudah disediakan bakcang ayam dan untuk yang suka babi juga sudah disediakan. Dalam demo yang dilakukan sudah dipersiapkan bahan-bahan yang sudah di buat sehingga tidak terlalu lama dalam proses pembuatan bakcang jadi tinggal kukus saja. Dengan mengambil nasi/ketan dimasukkan terlebih dahulu kemudian diiringi dengan daging dan terakhir dibungkus dengan daun pring (daun bambu). Setelah itu bakcang diikat dan dengan tali. Setelah itu bakcang siap dikukus.

                                           Mak sedang mendemokan proses membuat bakcang

Sejarah Bakcang

Nah sejarah bakcang ini sebenarnya panjang banget tapi saya akan bagikan dari link sejarah yang saya ambil dari Bakcang Peneleh.

Sejarah bacang berasal dari tokoh Qu Yuan (343--289 SM). Qu Yuan adalah sastrawan terkemuka dari Kerajaan Chu. Bukunya sangat laris dan terkemuka, salah satunya Chun Tzu (Ratapan Negeri Tzu) dan Li Sao (Menapaki Kesedihan). Selain itu, ia juga dikenal sebagai menteri yang terpercaya dan setia. Kerena popularitas itu, rekan-rekannya menjadi iri dan berusaha menyingkirkan dia. Rekannya adalah para penjilat kekuasaan yang bermanis-manis di depan raja dan berusaha menjatuhkan Kerajaan Chu dan lebur dalam Kerajaan Chin. Qu Yuan tidak mau ikut dengan konspirasi itu sehingga ia makin dibenci rekan-rekannya.

Pada suatu kesempatan, para menteri menekan tim dokter untuk menyatakan pantang garam bagi raja yang sedang sakit. Akibatnya raja menjadi makin sakit dan hanya bisa terbaring. Mengetahui adanya komplotan ini, Qu Yuan diam-diam membungkus garam dalam daum bambu dengan empat kerucut, lalu menggantung bungkusan itu di langit-langit ranjang raja dengan maksud agar garam itu menetes sedikit demi sedikit di atas mulut raja supaya kesehatab raja pulih lagi.

                                          Tidak sabar menikmati bakcang yang telah dibuat

Ketika hal itu diketahui, Qu Yuan malah dituduh meracuni raja. Karena tidak mau berurusan dengan pengadilan, lalu ia bunuh diri dengan menceburkan diri ke Sungai Mi Lou. Mendengar berita ini rakyat menjadi sedih dan mencari jenazah Qu Yuan. Mereka juga melemparkan nasi yang dibungkus dengan bambu kerucut empat untuk dimakan ikan agar tidak mengigit tubuh Qu Yuan. Mereka juga menabuh genderang di perahu untuk mengusir roh-roh naga jahat yang bisa mengganggu roh Qu Yuan.

Peristiwa ini dikenang tiap tahun dengan perayaan Peh Chun (bacang). Perayaan ini ditandai dengan perlombaan perahu naga (dragon boat) yang diawaki sekitar dua puluh orang pendayung yang duduk berpasangan dan mendayung mengikuti ritme genderang dan tradisi ini juga ditandai dengan makan bacang.

                                                     Bakcang yang dibuat para peserta

Itulah sejarah bacang. Keempat kerucutnya melambangkan empat kata Qu-Yuan-Setia-Percaya. Bacang adalah lambang penghormatan karakter terpercaya dan orang percaya malah tidak dipercaya dan bahwa orang setia malah didakwa. Bacang adalah ungkapan utuhnya percaya dan setia.

Lomba perahu naga dengan tim mencerminkan kerja sama yang baik, tidak sikut menyikut, setia satu sama lain, bisa dipercaya dan memercayai serta berani menghadapi segala tantangan demi kebenaran.


Artikel terkait Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 5 :

Saturday, July 31, 2010

Naik Kereta Api Turangga


Perjalanan pertama kali dalam hidup saya menaiki kereta api kelas 1 yakni Turangga. Kereta yang berbahan dan berdesain seperti pesawat terbang, dapat terlihat dari arsitektur jendelanya yang kecil-kecil yang menandakan desain pesawat terbang cepat.Di tiap gerbong kereta ini terdapat 4 LCD TV yang menghibur dengan film dan lagu-lagu. Ya bagus menurut saya untuk kelas eksekutif. Ada AC yang menampilkan temperature suhu ruangan pada gerbong juga.Disediakan pula kresek untuk yang mabuk. Ada bagasi di dekat pintu gerbong untuk menaruh barang bawaan seperti koper. Di kereta Turangga ini pada masing-masing gerbong memiliki pintu otomatis yang akan membuka pitu pemisah antar gerbong dengan menekan tombol untuk membuka pintu gerbong. Saya berangkat dari Statisun kota Bandung jam 7 malam dan tiba di Surabaya seharusnya pukul 8 pagi namun karena saat itu kereta terlambat jadi saya tiba di Stasiun Gubeng pukul 9 Pagi.

Stasiun pertama sebagai tempat pemberhentian adalah Stasiun Rancekek. Saya perhatikan selama perjalanan berhenti di setiap stasiun masih banyak stasiun yang menjaga keawetan arsitektur bangunannya dengan khas Belanda.

Sekedar info saja ternyata makan di Turangga semenjak 1 agustus,penumpang harus membayar.Pada saat malam itu menu yang saya ambil adalah Sepiring steak seharag Rp.25.000 dan segelas the manis hangat Rp.4000. Pantes saja pramugarinya nyatetin sesuatu ,saya pikir cuman buat survei makanan penumpang doank,ternyata.. Ya hitunghitung pengalaman makan di kereta api untuk pertama kali lah hehehe :) Jadi saya sarankan untuk perjalanan jangan lupa bawa minum yang cukup dan camilan.

Di kereta ini terdapat colokan listrik di samping kursi penumpang jadi bisa untuk mencharger handphone maupun notebook. Pelayanan pembersihan sampah yang selalu melayani untuk mengambil sampah-sampah di tiap gerbong. Pramugari dan pramugara menawarkan menu makanan yang dibawa ke tiap-tiap gerbong dengan berbagai menu dari steak,nasi goreng,mi rebus. Dan untuk minumannya seperti kopi,teh, dan aqua. Disediakan juga selimut(blanket) yang masih tersegel seperti habis di-laundri dan bantal untuk punggung anda.


Perjalanan ke Bandung

Perjalanan dari Surabaya ke Bandung seharusnya 16 jam di tempuh dengan Bis, dimuali dari saya tiba di Agen Bis Bandung Express berada di Jl.Arjuna Surabaya jam 3 yang kemudian ke Terminal Bungurasih untuk menjemput penumpang lain yang berada di terminal pukul jam 4 sore. Setelah itu perjalanan dimulai. Sampai di Pemalang pukul setengah 4 subuh. Pukul 4 pagi tiba di Tegal. Jam 7 pagi tiba di Sumedang. Sampai di Bandung Jl.Soekarno Hatta pukul sekitar pukul 8.40 pagi.

Di Bis Bandung Ekspress akan ditemui toilet dalam bis, dan ketika perjalanan sampai di Tuban akan di ajak makan malam sebagai fasilitas dari Bandung Ekspress dalam perjalanan jauh ke Bandung di sebuah tempat rumah makan (lupa saya nama rumah makannya) dimana menu nya dapat anda ambil sesuka anda dan secara default akan diberi teh hangat sebagai hidangan minuman.

Untuk pulangnya kembali ke Surabaya. Saya naik kereta api kelas ekesekutif dari Bandung ke Surabaya dengan naik kereta api. Dari Stasiun Bandung Kota pukul 19:00 Malam dan tiba di Stasiun Gubeng Surabaya pukul 07.40 Pagi. Perjalanan menggunakan kereta api memakan waktu 12 jam-an. Untuk kelas eksekutif per-orang dikenakan biaya Rp. 320.000 dan biaya reservasi sebesar Rp.10.000.

Sebenarnya harga standard dari Kereta Turangga untuk tahun 2010 adalah Rp.220.000 namun berhubung saya di momen liburan jadi harga menjadi Rp.320.000

Perjalanan Bis dari Sidoarjo ke Indrapura Surabaya

Yah saya akan membagikan petualangan saya naik bis kota, sebenarnya saya sudah berulang kali naik bis kota namun saya tulis saya di blog ini agar dapat membagi pengalaman saya.

Perjalanan bis dimulai dari terminal larangan sidoarjo. Suasana yang akan anda hadapi adalah panas, badan saya langsung berkeringat untuk menstabilkan suhu badan. Bangku kursi sudah "bocel-bocel" oleh tangan jahil dan usia bis yang sudah uzur. Jangan dibayangkan seperti naik bis antar kota yang menggunakan AC di dalamnya. Jelaslah harga menentukan kualitas. Pengamen yang menyanyi maupun dengan caranya sendiri agar penumpang memberi belas kasih pada mereka serta pedagang yang berjualan. Jadi hati-hati dengan barang bawaan anda.

Rute dari terminal sidoarjo akan menuju tol Sidoarjo dan akan keluar di tol pasar turi. Perjalanan masih berlanjut sedikit lagi dan bilang saja ke kernet bis untuk turun di indrapura, maka akan diturunkan di depan museum kesehatan atau museum santet yang pernah saya bahas juga di blog ini.

Perjalanan dari terminal sidoarjo dan tiba di museum kesehatan memakan waktu sekitar 55 menit-an. Dan saya teruskan perjalanan dengan jalan kaki sekitar 100 meter dan akan tiba di Depot horison yang terletak di Jl. Indrapura surabaya no 27.

Demikian reportase perjalanan saya semoga dapat menjadi pengalaman ericovamili :)

Sunday, July 25, 2010

Membedakan Angkot Kuning Sidoarjo


Kali ini saya akan berbagi info naik angkot umum (angkutan kota)/kol/bemo. Jika diperhatikan di Kota Sidoarjo yang terkenal dengan kota udang akan ada 2 jenis angkot berwarna kuning, namun memiliki rute yang berbeda. Sedikit tips untuk anda yakni :

  • Jika anda sedang ingin menuju daerah Mall Suncity, Ramayana Mall, makam pahlawan, Taman Pinang Indah, Pondok Mutiara, Pondok Jati, Rumah Sakit Delta Surya dan terus ke arah Krian naiklah angkot berwarna kuning atau orange TANPA stiker dengan STRIP HIJAU
  • Jika anda sedang ingin ke arah Alun-alun Sidoarjo, Pucang Indah, Jenggolo, SMAN 1 Sidoarjo, Buduran, Joyoboyo maka naiklah angkot berwarna kuning DENGAN STRIP HIJAU

Semoga tips dari saya membantu anda untuk berputar-putar daerah Sidoarjo. Untuk diketahui untuk Juli 2010 saya naik dari tempat mangkal angkot di depan perumahan Taman Jenggala dan turun di depan Rumah Sakit Delta Surya saya bayar dengan Rp.1000 namun ditolak oleh supir dan meminta Rp.2000. Kemudian saya kembali dari depan alun-alun Sidoarjo menuju tempat mangkal angkot di depan perumahan Taman Jenggala juga dikenakan Rp.2000. perubahan harga yang signifikan dari tahun kemarin yang hanya Rp.1000.



Sunday, May 2, 2010

Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 3 – Adi Jasa


Okay berlanjut postingan saya mengenai makam kembang kuning kali ini perjalanan saya dan rombongan tur menuju Adi Jasa yaitu tempat persemayaman/rumah duka yang terletak di jalan demak 90-92 Surabaya. Perjalanan menuju Adi Jasa ini bukan ha lasing bagi saya karena memang jika ada keluarga yang meninggal atau kerabat selalu tempatnya disini kerana memang tempatnya yang luas. Kali ini Pak Agus sebagai tour guide di Yayasan Adi Jasa. 20 tahun lalu orang yang pergi ke Adi Jasa takut sekali, karena kanan kiri persemayaman tapi sekarang sudah banyak depot di Adi Jasa. Tamu tidak hanya melayat tapi juga bisa menikmati santap makanan tanpa perlu keluar dari Adi Jasa. Adi Jasa sendiri pertama kali ada karena banyak keturunan tionghoa yang tidak mampu baik dari segi ekonomi maupun dengan situasi yang tidak memungkinkan misalnya parkiran yang tidak muat untuk tempat parkir tamu-tamu yang melayat kemudian perlu ijin ini itu. Dengan adanya Adi jasa, tidak perlu ijin keramaian.
Yayasan Adi Jasa ini juga menyediakan rumah abu (columbarium) sebagai tempat untuk penitipan abu-abu kremasi jenazah kemudian disimpan dalam guci dan di masukkan dalam lemari kotak transaparan. Untuk kotak besar dikenakan biaya Rp.200ribu/tahun sedangkan kotak kecil Rp.120rb/tahun. Untuk jenazah yang masuk dalam lemari pendingin dalam sehari akan dikenakan biaya Rp.200ribu/hari. Ada hal yang membedakan antara penggunaan dry ice dengan cool storage yakni jiak menggunakan dry ice maka tubuh dari jenazah akan terasa keras.Dalam etika menghormati keluarga yang meninggal, cara pay-pay kepada keluarga yang meninggal dengan hormat di kiri kemudian hormat kanan kemudian jika memang ingin menyumbang akan disediakan kotak sumbangan yang biasa terletak di kanan anda dan jika memang member sumbangan maka akan diberi kartu tanda terima sebagai bukti telah menyumbang.Orang yang meninggal selama kurang dari 3 tahun biasanya lilin yang diguanakan adalah lilin putih, sedangkan jika sudah lebih maka menggunakan lilin merah. Seperti yang ceritakan di postingan liputan saya sebelumnya bahwa dalam meja altar sembahyangan, biasanya akan terdapat makanan kesukaan dari yang menginggal, jadi kalau yang meninggal suka indomie/mi instan maka disediakan mi instan di meja sembahyangan. Jadi tidak mengikat bahwa makanan yang harus disediakan ini itu.



Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 3 – Makam Kembang Kuning


Okay berlanjut postingan saya mengenai Eka Praya kali ini perjalanan menjajal makam kembang kuning. Ini pertama kalinya saya muter-muter mengelilingi makam-makam yang ada di kembang kuning. Dari kuburan ala jepang sampai ala tionghoa pada umumnya, dari yang kuno hingga baru dikubur.

Setelah puas dengan mengelilingi makam-makam di daerah sekitar krematorium Eka Praya, maka dilanjutkan turun ke bawah menuju kantor makam kembang kuning yang berada di bawah. Bersama dengan penjaga makam yaitu Pak Sukadi. Beliau menunjukkan makam tionghoa yang berada di tengah-tengah perkampungan warga. Dulunya perkampungan warga tidak ada hanya makam yang memiliki lahan tanah luas sekali. Jadi sekarang, tepat di depan rumah Pak Sukadi masih terdapat makam yang masih awet hingga sekarang. Bapak ini tidak merasa takut jika tepat di depan rumahnya terdapat kuburan dari Loe Gien San, pemilik lahan yang sangat luas di daerah ini. Bapak Sukadi ini sekarang tinggal di Kembang Kuning kulon gang 1 no 46 menjabat sebagai kepala makam Kristen kembang kuning Surabaya.





Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 3 – Krematorium Eka Praya



Okay berlanjut postingan saya sebelumnya kali ini perjalanan dilanjutkan ke Krematorium Eka Praya yang terletak di jalan kembang kuning Surabaya. Kembang kuning di tempat ini juga krematorium (kremasi jenazah) juga tempat persemayaman terakhir (kuburan). Kantor eka praya berada di kembang jepun dan juga berada di kembang kuning. Menurut salah seorang petugas yaitu Pak Surawi berusia 44 tahun yang memandu romobongan kami di Eka Praya ini, mengurus kremasi sendiri lebih ribet karena membutuhkan waktu untuk mengurus surat-surat seperti LJKK (surat kematian), dokter, pemerintah daerah. Bagi pihak Eka Praya, surat-surat itu penting bahkan KTP serta KSK pun harus persis sama dengan yang meninggal. Jadi untuk lebih mudahnya lebih baik urus skalian dengan pihak toko peti mati, tidak perlu susah-susah mengurus dan tinggal memastikan jam dan tanggal kremasi.

Secara umum kremasi di Eka Praya tidak membatasi agama apapun. Pada prosesi kremasi, jika pihak keluarga yang meninggal telah siap dapat menekan tombol memulai prosesi pembakaran jenazah. Untuk pembakaran, peti mati tidak boleh lebih dari 10cm tebalnya. Pada saat pembakaran yang tersisa dari hasil pembakaran/kremasi adalah tulang, karena tulang tidak hancur oleh pembakaran, sehingga tulang ini ajab di giling kembali dengan penggilingan untuk di lembutkan menjadi abu. Eka Praya dibangun di akhir tahun 1958 dan mulai beroperasi di tahun 1959. Untuk sekali prosesi pembakaran membutuhkan 150 liter solar sebagai bahan bakar kremasi. Ketentuan jumlah liter ini bergantung pada postur tubuh jenazah.



Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 3 - Ario



Okay berlanjut postingan saya mengenai bongpai dari sebelumnya kali ini perjalanan dilanjutkan ke Ario prosuden/pembuat peti mati dan siupan yang terletak di jalan dinoyo 94-96 dekat kampus WM (Widya Mandala). Di Ario ini jumlah karyawan sebanyak 50 orang namun juga tergantung pada kesibukan,misal banyak order dan event maka jumlah karyawan bisa bertmbah. Rekor yang pernah dipecahkan dalam sehari terdapat 18 pemakaman.
Ario petimati ini di rintis sendiri oleh Pak Ario Karyanto yang memiliki anak perempuan, Yohana disekolahkan khusus jurusan kuburan di Amerika. Kalau tidak salah Yohana sendiri pernah masuk liputan koran jawapos mengenai jurusannya yang agak melenceng karena kuliah kuburan sampai di Amerika*kalau tidak salah loh ya*.Yohana sendiri lulusan ilmu pemakaman, di America sendiri ada sekitar 37 universitas yang memiliki jurusan ilmu pemakaman. Dengan materi-materi yang membahas :
  • Pengenalan budaya bangsa-bangsa
  • Psikologi
  • Chemistry dalam make-up supaya orang yang telah meninggal kelihatan orang tidur
  • Hukum
  • Seni restorasi, misalnya orang yang kecelakaan parah di buat seperti tidak terjadi apa-apa
Mr Richard suami dari Yohana menceritakan di China sana terdapat 4 musim, cingbing sendiri bertepatan dengan perubahan musim dimana 45 hari setelah musim semi.cara cingbing menunjukkan keluarga yang ditinggal oleh yang meninggal menghargai orang yang meninggal dengan membersihkan kuburan. Jaman sekarang cingbing dipermudah, era dahulu dalam perayaan cingbing, saudara yang paling tua harus dating di kuburan untuk berdoa namun sekarang sudah tidak harus pergi ke kuburan, bisa dengan bersembahyang di meja altar rumah yang ada foto dari yang meninggal juga sudah termasuk memperingati cingbing.Di Taiwan dan Singapore tidak ada tanah untuk kuburan dan hampir dipastikan 100% jenazah akan dibakar/kremasi. Sedangkan tanah di Indonesia begitu luas dan masyarakat tionghoa di Indonesia sudah bercampur dengan budaya muslim untuk mengubur jenazah, oleh karena itu kebanyakan orang tionghoa di Indonesia mengubur yang meninggal dengan dikebumikan kembali ke tanah dengan prinsip dari tanah kembali ke tanah dan tidak menyukai kremasi.Budaya masyarakat tionghoa di Indonesia yang setelah kremasi akan menyebar abu jenazah di laut, sedangkan orang di China takut menyebar abu jenazah di laut karena mereka tidak tahu kemanakah arah abu jenazah akan pergi. Menurut Mr Richard, pemakaman di laut yang benar adalah menaruh peti langsung ke laut bukan dengan menyebar abu jenazah ke laut.Menurut Mr.Richard ceng beng adalah kegiatan mengenang yang anda kasihi bukan harus pergi ke kuburan, karena ceng beng/cing ming adalah tradisi lluhur saja. Jadi kalau tidak bisa ke kuburan. Makanya di rumah orang tionghoa biasanya ada foto dari orang yang dikasihi dan anak-anak keluarga kita di minta untuk pay-pay dan menghormati leluhur. Jadi pemikiran ceng beng bukan bersih-bersih kuburan.

Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 3 - Bongpay



Okay berlanjut postingan saya introduction dari sebelumnya setelah dari Bibis no 3 yang dulunya adalah Kantor redaksi Sin Ti Po berlanjut naik angkot menuju tempat pembuatan bongpay/nisan praloyo yang terletak di jalan bunguran 91 yang lokasinya terus lurus setelah pasar atom dan sebelum jalan kembang jepun (Kya-Kya).
Bongpay sendiri berarti nisan yang dipasang dikuburan tionghoa. Bong yang perarti kuburan/makam. Pay berarti berdoa/menghormati atau biasa disebut pay-pay dalam bahasa mandarin.Pemilik dari toko Tjwan Tik Sing (Nisan Praloyo) adalah Pak Suwanto yang menjadi penerus generasi ke-3 dari bisnis Bongai ini. Toko perusahaan batu bongpay sudah berdiri sejak tahun 1937. Persaingan dalam bisnis Bongpay selalu ada. Bahan batu dari bongpay ini di datangkan dari Makasar, ujung pandang. Namun kualitas batu dari makasar akan mengikis setelah 10 tahun lamanya. Kemudian di datangkan dari Jawa tengah, namun kualitas cepat berubah warna batu. Kemudian di coba lagi batu yang berasal dari Bandung, namun kandungan air pada batu cukup banyak.Harga dari bongpay sendiri paling murah adalah Rp.2,5 juta dengan kualitas biasa. Pada jaman dahulu bongpay dibuat dari batu kemudian di jaman sekarang mulai beralih ke marmer/granit selain lebih awet namun juga lebih elegan dalam estetika bongpay.Pertanyaan menarik dari salah seorang pengikut tur ini menanyakan apakah batu nisan bongpay sendiri dapat diganti misal dengan plastic atau apa kenapa kok pakai batu? Jawabannya adalah kepercayaan orang tionghoa, yang menggunakan batu sebagai bongpay kuburan karena batu yang bersifat alam. Dan yang berasal dari alam akan memiliki kekuatan alam sehingga tidak boleh diganti dengan material lain. Bisa saja plastik atau batu campuran dibuat tapi namanya adalah membohongi.Ada aturan dalam pembuatan bongpay dilihat dari segi hongshui/fengshui. Jadi orang akan repot-repot membuat bongpay karena ada sangkut pautnya dengan fengshui keturunan dari yang meninggal tersebut. Sehingga pembuatan bongpay harus hati-hati dan tidak asal mencari suhu(pendeta). Karena bala/musibah yang terjadi bukan untuk yang meninggal tapi yang masih hidup. Biasanya dalam penulisan bongpay warna orang yang sudah meninggal berwarna kuning emas dan yang masih hidup berwarna merah, jika orang yang berwarna merah telah tiada maka tulisan pada bongpay akan dirubah menjadi kuning emas juga.



Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 3 - Introduction



Minggu 25 April 2010 pagi itu dengan hujan rintik-rintik dengan semangat 45 *halah* tidak membuat saya menyerah untuk menuju Jl. Bibis no 3 Surabaya (ex Redaksi Sin Ti Po 1929-Bibisoversvaart 3) , meskipun Sidoarjo dan Surabaya sama-sama diguyur hujan pagi itu.
aya berterimakasih pada rekan saya Mas Fahmi , Ko Jie, Ce Maya selaku panitia dari acara Melantjong Petjinan Soerabaia Episode 3 dengan tema Ceng Beng / Cing Ming telah mengajak saya untuk berkeliling tempat-tempat yang berhubungan dengan pekuburan pecinan/tionghoa. Tour ini menggunakan angkot/bemo, untuk pertama kalinya saya muter-muter tempat-tempat di Surabaya naik angkot.

Definisi ceng beng sendiri menurut Pak Suparto (penulis novel, serta kontributor Koran Penyebar Semangat yang juga pelestari budaya jawa) sebagai salah satu narasumber yang dihadirkan kali ini adalah masa dimana panen gula. Kemudian setelah petani gula panen, mereka akan menonton bioskop koboi. Pak Suparto ini mengerti tentang sejarah daerah-daerah Surabaya yang dulunya adalah makan tionghoa yang kemudian dijadikan sebagai perumahan atau jalan.Ceng beng biasanya dilaksanakan pada tanggal 5 bulan April.


Di atas nisan biasa terdapat 3 patung dewa yakni Fu, Lu, Su. Fu yang berarti rejeki, lu berarti masa depan, Su berarti umur panjang.


Okai ikuti perjalanan saya di postingan-postingan selanjutya. Silakan menikmati perjalanan saya kawan..







Friday, March 19, 2010

Pengalaman di Pengadilan Negri Surabaya

Apa kabar kawan ? saya harap anda sehat-sehat selalu :)

Kali ini saya membahas pengalaman saya di pengadilan negeri Surabaya yang terletak di Jl.Arjuno 16-18. Lokasinya tidak jauh-jauh amat dari tempat hiburan malam Meteor atau skearang dikenal dengan nama MGM.

Ceritanya berawal dari saya salah belok di daerah putar balik kebun binatang surabaya ke arah dinoyo. Saya sudah tahu kalau ada polisi di sana yang stanby namun karena saya merasa benar rute yang saya lewati saya belok saja. Dan pada akhirnya tau sendiri lah apa yang terjadi. Yang pasti saya ditangkap bukan karena pemakai narkoba mengingat saya anak alim hahaha :p

Ok jam tilang pukul 9 tanggal 19 Maret 2010, yang mana saya harus merelakan waktu untuk tidak mengajar murid saya yang cerdas-cerdas. Hari telah berlalu begitu cepat hingga tadi pagi tepat di jam 9 tanggal 19 maret saya tiba di pengadilan negeri Surabaya.

Begitu tiba di parkiran langsung masuk ke ruangan sidang yang dituju misal dalam kasus saa ruangan Niaga. Suasana terdapat ruangan sidang yang tersekat-sekat sehingga anda dapat melihat acara sidang yang lain. Segera saja serahkan surat tilang anda di meja depan dalam ruangan sidang untuk di tumpuk dan dilakukan pencarian berkas.

Antrian penuh sesakan membuat ruangan terasa pengap dan panas meskipun jendela sudah dibuka. Nah saya akan berbagi prosedur menurut saya saat anda melaksanakan sidang tilang, karena saya tidak melihat SOP atau Standard Operasional Procedure dalam pengambilan berkas sidang.

  1. Masuk ke ruangan sidang anda
  2. Serahkan surat merah tilang anda ke petugas di meja depan (pastikan tanggal dan jam sidang anda tepat, karena jika tidak tepat anda akan dipanggil lagi dan dikembalikan surat anda untuk datang di saat yang tepat)
  3. Tunggu nama anda di panggil, selagi anda menunggu anda bisa baca-baca blog saya ini dulu :p
  4. Setelah nama anda dipanggil segera maju ke meja hijau depan untuk mengambil berkas dan membayar denda tilang anda
  5. Setelah denda telah di bayar silakan keluar dan lanjutkan kembali aktivitas anda :D

Saya teringat dulu saya menggunakan jasa calo di depan pengadilan ini yang kena Rp.75.000 yang mana prosesnya lama sekali hingga saya harus mengambilnya di sore hari, tapi dengan saya berusaha sendiri saya hanya terkena Rp.26.000 saja ! save Rp.50.000 for hunting resto :)

Semoga dari cerita saya ini membuat anda lebih berhati-hati di jalan dan mematuhi aturan lalu lintas baik rambu-rambu yang ada dan marka.

Thursday, March 4, 2010

Jalan Jalan Mangrove Wonorejo


Perjalanan saya dan rekan-rekan fotografi dan pencinta kuliner Surabaya kembali berlanjut, dengan di usung part kedua oleh rekan kuliner Inijie yang mana mengadakan acara Jalan-Jalan Mangrove.

Hari libur yang seharusnya digunakan untuk beristirahat kami gunakan sebaik mungkin untuk jalan-jalan bersama dan hunting foto.Tidak lupa dengan rekan blogger evelyn yang juga cukup akrab juga dengan saya di dunia per-bloggeran.


Dilaksanakan pada jumat tanggal 26 februari 2010 lalu, berkumpul di depan STIKOM Surabaya. Berawal dari STIKOM kumpul setengah 7 pagi kemudian langsung di lanjutkan ke Hutan Mangrove Wonorejo belakang STIKOM Surabaya. Nampak perbedaan suasana yang tidak tandus dan gersang seperti padang pasir, karena setahun yang lalu saya dan teman-teman STIKOM menanam pohon mangrove suasana saat mau masuk ke dermaga sangat gersang namun sekarang banyak tumbuh-tumbuhan.

Biaya naik kapal untuk menyebrangi sungai menuju lokasi Mangrove cukup merogoh kocek Rp.20.000 dan untuk anak-anak cukup Rp.10.000. Anda akan memperoleh pinjaman vest pelampung orange saat menaiki kapal untuk menyeberangi sungai.


Di hutan mangrove ini lebih cocok untuk memang melihat pemandangan dan hunting foto karena lighting di pagi hari cukup bagus, alhasil hasil huntingan foto saya pun tidak mengecewakan meskipun saya tidak menggunakan SLR berkelas tinggi namun hanya Kodak C713.